Breaking

Bersama dan Bersatu Dalam Bingkai NKRI di Dalam Huma Betang

BKBP, Palangka Raya – Ratusan pemuda yang terdiri dari Ormas, Paguyuban, Komunitas, Kepemudaan, dan Sanggar Tari ikuti Apel Bersama dan Gelar Budaya “Kesatuan Kebangsaan Dalam Bingkai NKRI Di Bumi Tambun Bungai, Bumi Pancasila, Bumi Bhineka Tunggal Ika, Dalam Falsafah Huma Betang”, bertempat di Tugu Soekarno Palangka Raya. Kamis (17/1/19).

“Apel Bersama dan Gelar Budaya Kebangsaan ini digelar untuk bersama dan bersatu dalam bingkai NKRI di dalam Huma Betang, tetap menjaga kebangsaan, berkomitmen dalam persatuan dan kesatuan bangsa, dan dibalut dengan Pembacaan Ikrar Kesatuan Bangsa”, terang Bambang Irawan, Ketua FORDAYAK, selaku ketua pelaksana acara.
Apel ini diikuti kurang lebih 300 peserta yang terdiri dari KNPI, Mahasiswa di Kelompok Cipayung, Arema Malang, komunitas Pencak Silat, HIMAPAKAT Katingan, komunitas Reok Ponorogo, Sanggar Tut Wuri Handayani, Fordayak, Perpedayak, Gepak, KOPPAD, Gerdayak, Ansor Banser, Paguyuban Jawa barat, Komunitas Papua, Komunitas Ambon Maluku, FORMAD-KT, Komunitas Kawanua, Komunitas Batak, Paguyuban Kalibata, Komunitas NTT Flores, dan masyarakat kota Palangka Raya.

Ketua DPRD Kota Palangkaraya, Sigit K Yunianto, selaku Inspektur upacara mengatakan dalam sambutanya, Kita semua yang hadir di sini telah memiliki cukup pengetahuan dan pemahaman terhadap masalah kebangsaan, kegiatan ini tidak terlepas dari kesepakatan kita Bersama sebagai sebuah bangsa, yaitu bahwa kita tetap hidup dalam sebuah negara yang punya empat pilar kenegaraan, yaitu; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Empat pilar tersebut akan menopang usaha kita untuk mencapai bangunan kebangsaan dan seluruh cita-citanya yaitu Indonesia yang maju, makmur, dan sejahtera.

Saat ini di negara kita khususnya, wawasan kebangsaan menjadi salah satu hal yang tidak popular, baik di kalangan generasi muda maupun golongan masyarakat lainnya. Telah berkembang fenomena sifat yang individualistis, solidaritas kelompok yang sempit dengan berlatar belakang suku, agama, ras dan adat istiadat maupun kelompok kepentingan lainnya. Bahkan di Bumi Tambun Bungai yang kita cintai ini, fenomena terkikisnya semangat kebangsan pun juga terjadi.

Sigit menambahkan, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak kita semua mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Bapak RTA Milono, Gubernur Pembentuk Provinsi Kalimantan Tengah di Bukit Ngalangkang Pahandut pada tanggal 18 Mei 1957, bahwa Kalimantan Tengah dilahirkan bukan buat satu daerah, bukan buat satu agama, bukan buat satu suku, akan tetapi buat seluruh bangsa Indonesia. (“Kalimantan Memanggil ” Tjilik Riwut – 1958).

Dorongan yang melahirkan kebangsaan kita bersumber dari perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan, memulihkan martabat kita sebagai manusia. Wawasan kebangsaan Indonesia menolak segala diskriminasi suku, agama. ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kita harus siap untuk menjaga wawasan kebangsaan Indonesia dari derasnya arus globalisasi yang tidak bisa dihindari. Arus globalisasi ini membawa serta paham konsumisme hedonis yang menyebabkan seseorang kehilangan kepedulian sosialnya karena mengejar kepuasan pribadi.

“Kita juga harus bisa menjaga wawasan kebangsaan dari fanatisme kesukuan, radikalisme dan euphoria demokrasi yang sudah kita alami sekarang. Perbedaan pendapat dan pilihan tersebut jangan sampai berkembang menjadi perpecahan dan permusuhan yang dapat mengancam persatuan kita”, tegas Sigit. #Badan Kesbangpol Kota Palangka Raya/rzl

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.