Breaking

Supa Hasundau Walikota dengan Kepengurusan FPK Kota Palangka Raya

BKBP, Palangka Raya – Dalam pelaksanaan pembangunan yang berkesinambungan pemerintah mempunyai kewajiban melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kamis (14/12/2017) bertempat di Ruang Petang Karuhei II Pemkot Palangka Raya telah dilaksanakan ramah tamah Walikota Palangka Raya dengan Dewan Pembina dan Pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kota Palangka Raya.

Acara tersbut dihadiri seluruh dewan pembina dan pengurus FPK Kota Palangka Raya, Unsur Forkopimda, Camat sekota Palangka Raya dan para undangan lainya, Keberadaan FPK dimaksudkan untuk memelihara konduktifitas masyarakat Kota Palangka Raya.

Badan Kesbangpol Kota Palangka Raya telah memfasilitasi kegiatan FPK. Disamping sebagai sarana saling berbaur, diharapkan forum ini dapat menjembatani silaturahmi masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan daerah seluruh nusantara ini.

Semenjak Empu Tantular menulis tentang Bhinneka Tunggal Ika, maka sesungguhnya kesadaran tentang pluralitas dan multikulturalitas sudah dimiliki oleh para leluhur bangsa ini. Kerajaan Kahuripan, Jenggala, Majapahit dan diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Islam sudah memberikan gambaran tentang implementasi pluralitas dan multikulturalitas tersebut.

Di wilayah kerajaan Nusantara ini memang semenjak semula memiliki varian suku, ras dan agama. Di kerajaan Majapahit terdapat aneka pemeluk agama; Hindu,  Budha, Islam dan Budha-Syiwa, dan juga keyakinan lokal lainnya. Semenjak Wangsa Isyana menguasai tanah Jawa, Sri Erlangga, kemudian Sri Jayabaya, dan raja-raja Majapahit, maka di kerajaan-kerajaan tersebut sudah terdapat  kehidupan yang bhinneka tunggal ika. Di negara-negara tersebut telah hidup suku Jawa, Cina, Arab dan bangsa-bangsa lain dengan aneka agama dan kepercayaannya.

Pengalaman tentang kehidupan bersama semenjak kerajaan Kahuripan sampai masa Orde Reformasi yang sudah berusia ribuan tahun sebagai bangsa yang plural dan multikultural sesungguhnya dapat menjadi kaca benggala tentang pentingnya membina kehidupan yang aman dan damai. Seharusnya semua elemen bangsa ini menyadari bahwa keteraturan sosial merupakan prasyarat dalam merajut kehidupan yang dikehendaki bersama. Oleh karena itu, mengurangi tensi kekerasan juga seharusnya menjadi perhatian semuanya.

Namun demikian terkadang kepentingan diri, golongan, komunitas dan masyarakat tertentu bisa menjadi kendala dalam mewujudkan kehidupan yang teratur. Sebagai bangsa yang besar, sudah seharusnya jika semua elemen menyadari bahwa tiada kebesaran suatu bangsa tanpa merajut kebersamaan berbasis perbedaan, baik dalam ras, etnis, dan agama.

Jika kita bisa membangun pembauran antar etnis di dalam negara bangsa ini, maka dimungkinkan akan terjadi kebersamaan dalam kerangka mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu menciptakan masyarakat yang adil,  makmur sejahtera, cerdas dan mampu membangun perdamaian dunia. #Rzl Kesbangpol Kota Palangka Raya

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.