Breaking

Tabuh I Upacara Tiwah Dipadati Pengunjung

BKBP, Palangka Raya – Kalimantan terkenal dengan suku Dayak yang punya berbagai ritual. Bagi suku Dayak di Kalimatan Tengah, ada ritual khusus yang dilakukan untuk menghargai kematian salah satu anggota keluarganya. Ritual ini adalah ritual Tiwah yang dilaksnakan di Balai Basarah Kaharingan, Selasa (4/12/18).

Parada Lewis KDR mengatakan “ritual Tiwah merupakan kepercayaan umat Kaharingan bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah roh orang yang sudah meninggal menuju Lewu Tatau (Surga),” kata Prada.

Pada Tiwah massal 2018 ini ada 33 almarhum yang ditewahkan oleh pihak kelaurga, ini terlihat dari jumlah 33 Tihang Bandera Liaw yang berdiri tegak di pagar Balai Basarah Kaharingan Palangka Raya. 

Selain itu, upacara Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, ritual ini disertai Manganjan yaitu tarian sakral yang khusus dibawakan pada acara tiwah sebagai wujud penghormatan anggota keluarga kepada leluhur. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung). Melaksanakan upacara Tiwah butuh persiapan panjang, belum lagi dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain itu, rangkaian upacara prosesi Tiwah ini sendiri memakan waktu hingga berhari-hari, bahkan hingga 1 bulan.

Puncak acara Tiwah ini sendiri nantinya memasukkan tulang-belulang yang digali dari kubur dan sudah disucikan melalui ritual khusus ke dalam Sandung. Namun, sebelumnya lebih dahulu di gelar acara pendirian sapundu, sapi atau kerbau diikat di tiang Sapundu. dan beras Tawur ditaburkan ke arah hewan. Hewan tersebut dijaga siang dan malam oleh pihak keluarga yang mengadakan tiwah.

Kemudian tarian Manganjan diawali oleh beberapa orang yang berputar mengelilingi Sangkaraya dan Sapundu. Semua bunyi-bunyian saat itu ditabuh, pekik sorak kegembiraan terdengar disana-sini, suasana meriah riang gembira. Setelah Menganjan selesai, mulailah acara penombakan hewan korban (Tabuh), terlebih dahulu ayam disembelih, dilanjutkan penombakan babi dan kerbau. Darah hewan yang dibunuh dikumpulkan pada sebuah Dulang dan akan digunakan untuk membersihkan segala dosa keluarga yang masih hidup.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Kalteng, Guntur Talajan, menjelaskan, Pemerintah sangat mendukung penuh, karena kegiatan tiwah ini merupakan bagian dari pembinaan umat beragama dan akan menjadi agenda rutin tahunan Pemerintah Provinsi Kalteng dan Kota Palangka Raya.

Saat ini, ritual Tiwah menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal ataupun macanegara. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah, khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.

“Pada acara Tabuh I ini pengunjung melebihi dari target, areal Tiwah sangat penuh dan sesak, tanggal 6-7 Desember 2018 akan dilaksanakan lagi Tabuh ke II dan III, hingga prosesi pemasukan tulang ke Sandung akan dilaksanakan pada tanggal 8-10 Desember 2018 di tempat Pemakaman Kaharingan Jl. Cilik Riwut Km. 2,5 Palangka Raya. “ jelas Guntur. #Badan Kesbangpol Kota Palangka Raya/rzl

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.